Evolusi merupakan bangunan ilmu terbesar, dan perkembangannya sangat luas. Meliputi pokok bahasan yang beragam dan terdapat bagian-bagian yang agak ditakutkan. Para ahli biologi evolusi sekarang meneliti evolusi dari berbagai disiplin ilmu, seperti genetika molekuler, morfologi dan embriologi. Mereka juga bekerja dengan peralatan yang beragam seperti dengan larutan kimia di dalam tabung reaksi, tingkah laku hewan di hutan rimba, fosil yang dikoleksi dari daerah-daerah purbakala dan batu-batu karang atau gunung-gunung batu.


A.  ARTI PENTING MATA KULIAH

     Mata kuliah Evolusi termasuk komponen mata kuliah wajib pada Fakultas Tarbiyah Prodi Biologi. Evolusi merupakan mata kuliah sentral yang menyatukan semua cabang ilmu biologi. Mata kuliah ini menekankan pengembangan pola berfikir ilmiah megenai biodiversitas. Setiap pokok bahasan akan diadakan diskusi kelompok sehingga mahasiswa menjadi lebih kritis. Dengan demikian, melalui perkuliahan yang berlangsung secara interaktif diharapkan mahasiswa memiliki kemampuan mengkritisi berbagai teori dalam konsep Evolusi guna meningkatkan kompetensi dan ketrampilan mengajarnya sebagai calon-calon tenaga pengajar yang professional.

B.  TUJUAN UMUM MATA KULIAH

 Di akhir perkuliahan diharapkan mahasiswa memiliki  pemahaman tentang konsep-konsep dasar, proses dan prinsip evolusi , evolusi berbagai mahluk hidup, mekanisme evolusi, filogenetik dan bukti evolusi.  Mahasiswa diharapkan memperoleh wawasan tentang berbagai prinsip dan konsep evolusi, perkembangan teori evolusi dari masa ke masa, kemunculan pokariot, protista, tumbuhan, hewan invertebrata, vertebrata, dan manusia, mekanisme evolusi yang terjadi di alam, variasi genetik, seleksi alam, isolasi reproduksi, asal usul kehidupan dan perkembangan filogeninya, bukti evolusi dan mutasi sebagai pengarah evolusi.

Untuk mencapai tujuan umum tersebut mahasiswa harus terlebih dahulu mengetahui dan memahami berbagai hal sebagai berikut :

1.   Sejarah Teori Evolusi.

2.   Skala waktu geologi dan keadaan bumi pada awal kehidupan.  

3.   Pemisahan Pangea, teori tentang terjadinya kepulauan Indonesia, dan biogeografi.

4.   Evolusi Prokariot, Protista, munculnya keanekaragaman mahluk hidup, dan perkembangan klasifikasi.

5.   Evolusi tumbuhan dan peranannya terhadap kehidupan di bumi.

6.   Evolusi Invertebrata hingga protovertebrata.

7.   Evolusi Vertebrata: Pisces, Amphibia, Reptilia, Aves, mamalia.

8.   Radiasi mamalia dan asal usul manusia.

9.   Genetika populasi.

10.  Kuis

11.  Mekanisme evolusi.

12.  Spesiasi.

13.  Filogeni.

14.  Bukti Evolusi.

C.   TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti perkuliahan ini diharapkan mahasiswa mampu :

1.  Menjelaskan Sejarah Teori Evolusi.

2.  Menjelaskan Skala waktu geologi dan keadaan bumi pada awal kehidupan.

3.  Menjelaskan Pemisahan Pangea, teori tentang terjadinya kepulauan Indonesia, dan biogeografi.

4.  Menjelaskan Evolusi Prokariot, Protista, munculnya keanekaragaman mahluk hidup, dan perkembangan klasifikasi.

5.  Menjelaskan Evolusi tumbuhan dan peranannya terhadap kehidupan di bumi.

6.  Menjelaskan Evolusi Invertebrata hingga protovertebrata.

7.  Menjelaskan Evolusi Vertebrata: Pisces, Amphibia, Reptilia, Aves, mamalia.

8.  Menjelaskan Radiasi mamalia dan asal usul manusia.

9.  Menjelaskan Genetika populasi.

10.  Menjelaskan Mekanisme evolusi.

11.  Menjelaskan Spesiasi.

12.  Menjelaskan Filogeni.

13.  Menjelaskan Bukti Evolusi.


Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi.

Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan hanyutan genetik. Seleksi alam merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu populasi - dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan ini. Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi perubahan kecil sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan seleksi alam. Sementara itu, hanyutan genetik (Bahasa Inggris: Genetic Drift) merupakan sebuah proses bebas yang menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi. Hanyutan genetik dihasilkan oleh probabilitas apakah suatu sifat akan diwariskan ketika suatu individu bertahan hidup dan bereproduksi.

Walaupun perubahan yang dihasilkan oleh hanyutan dan seleksi alam kecil, perubahan ini akan berakumulasi dan menyebabkan perubahan yang substansial pada organisme. Proses ini mencapai puncaknya dengan menghasilkan spesies yang baru. Dan sebenarnya, kemiripan antara organisme yang satu dengan organisme yang lain mensugestikan bahwa semua spesies yang kita kenal berasal dari nenek moyang yang sama melalui proses divergen yang terjadi secara perlahan ini.

Dokumentasi fakta-fakta terjadinya evolusi dilakukan oleh cabang biologi yang dinamakan biologi evolusioner. Cabang ini juga mengembangkan dan menguji teori-teori yang menjelaskan penyebab evolusi. Kajian catatan fosil dan keanekaragaman hayati organisme-organisme hidup telah meyakinkan para ilmuwan pada pertengahan abad ke-19 bahwa spesies berubah dari waktu ke waktu. Namun, mekanisme yang mendorong perubahan ini tetap tidaklah jelas sampai pada publikasi tahun 1859 oleh Charles Darwin, On the Origin of Species yang menjelaskan dengan detail teori evolusi melalui seleksi alam. Karya Darwin dengan segera diikuti oleh penerimaan teori evolusi dalam komunitas ilmiah. Pada tahun 1930, teori seleksi alam Darwin digabungkan dengan teori pewarisan Mendel, membentuk sintesis evolusi modern, yang menghubungkan satuan evolusi (gen) dengan mekanisme evolusi (seleksi alam). Kekuatan penjelasan dan prediksi teori ini mendorong riset yang secara terus menerus menimbulkan pertanyaan baru, di mana hal ini telah menjadi prinsip pusat biologi modern yang memberikan penjelasan secara lebih menyeluruh tentang keanekaragaman hayati di bumi.

Meskipun teori evolusi selalu diasosiasikan dengan Charles Darwin, namun sebenarnya biologi evolusioner telah berakar sejak zaman Aristoteles. Namun, Darwin adalah ilmuwan pertama yang mencetuskan teori evolusi yang telah banyak terbukti mapan menghadapi pengujian ilmiah. Sampai saat ini, teori Darwin mengenai evolusi yang terjadi karena seleksi alam dianggap oleh mayoritas komunitas sains sebagai teori terbaik dalam menjelaskan peristiwa evolusi.